

Anggota Komisi I DPR RI Prananda Surya Paloh, Senin (2/11) berkunjung ke Markas Komando Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) I Belawan. Kunjungan anggota Fraksi Partai Nasdem itu untuk sharing dan silahturahim dengan prajurit TNI AL, juga dalam rangka masa reses legislatif.
Dalam pertemuan itu terungkap bahwa wilayah yang sering terjadi perompakan adalah Pulau Natuna, Wilayah Aceh dan Selat Singapura, Luas wilayah kerja Lantamal I Belawan mulai dari Aceh hingga Dumai dengan Lanal Dumai, Lanal Asahan, Lanal Sabang, Lanal Seumelue, Lanal Lhoksmawe dan Lanal Tanjung Balai Asahan. Untuk menegakkan hukum dan kedinasan AL dengan wilayah seluas itu, pagu anggaran per tahun hanya Rp. 4 Miliar.
Danlantamal I Belawan Laksamana Pertama TNI AL (P) Yudo Margono SE mengemukakan hal tersebut dan menekankan sejumlah tantangan yang harus dicarikan solusi. Menurutnya, walaupun keterbatasan alusista tapi tidak luput merupakan kewajiban TNI AL secara khusus di kemaritiman, sebagai penyelenggara operasi keamanan laut. “Lantaman I Belawan mempunyai alusista 9 unit kapal”. Kapal ini kebanyakan diperuntukkan untuk operasi atau patroli yang menyangkut perbatasan langsung dengan negara tetangga. Meski saat ini sarana yang kita punyai masih membutuhkan modernisasi,” ucapnya.
Prananda dalam kapasitas anggota Panja Kesejahteraan Prajurit Komisi I DPR-RI sempat terkejut dengan pagu anggaran RP. 4 Miliar setahun dengan tugas berat menjaga laut Indonesia yang luas di wilayah Lantamal I Belawan, Yudo membenarkan, sejumlah persoalan saat ini mengemuka dan yang paling baru mengenai imigran gelap, ilegal fishing, penyelundupan barang-barang ilegal dari Malaysia dan perompakan dilaut. “Adanya ilegal fishing. Ini terjadinya pencurian ikan dengan pukat, bom ikan. Dan ini sering terjadi di Pulau Natuna.
Perompakan, ini sering terjadi di Wilayah Aceh dan selat Singapura dengan modus menyandera dan mengambil barang-barang. Juga pencurian yang terjadi saat kapal-kapal lego jangkar,” katanya.
Walaupun sarana patroli sangat terbatas, sambung Yudo, patroli harus tetap dilaksanakan. Sementara itu masalah fasilitas komando seperti mess prajurit masih banyak yang tidak berfungsi. “Kita masih sangat kekurangan tenaga medis dan para medis. Rumah negara (rumah dinas) banyak yang rusak tidak terawat karena faktor usia. Permasalahan aset tanah dan, belum terpenuhinya dukungan BBM untuk operasi,” jelasnya.
Prananda mengurai, Angkatan Laut adalah poros kunci utama. Untuk itu sangat penting kesejahteraan prajurit. Khususnya Sumut yang berbatasab langsung di Selat Malaka. “Saya berharap Lantamal I Belawan akan menjadi poros angkatan laut yang disegani,” ujarnya dan menilai pagu Rp. 4 Miliar sangat-sangat minim untuk menunjang operasi angkatan laut. “Saya mencoba mengkomunikasikan pada komisi untuk langsung dibicarakan dengan kementerian yang bersangkutan khususnya di Seumelue. Juga bahan bakar di angkatan laut pernah menjadi permasalahan nasional. Karena angkatan laut pernah utang di Pertamina sampai Rp. 3 Triliun. Hal ini akibat mendadaknya operasi yang tidak pernah sesuai rencana setiap tahunnya,” bebernya.
Prananda Surya Paloh bersama Laksamana Pertama Yudo Margono, berkesempatan berkunjung ke KRI Teuku Umar yang saat itu sedang lego jangkar di dermaga Lantamal I Belawan. Anggota legislatif itu cukup kagum dengan kedisiplinan prajurit. Karena meskipun, KRI Teiku Umar sudah dianggap tua, namun tetap masih bagus dalam menjalankan operasi. Hal ini berkat perawatan rutin yang dilakukan oleh prajurit TNI AL.
Dalam kesempatanitu Prananda Surya Paloh, didampingi Ketua DPP Partai Nasdem, Korwil Sumatera Utara Martin Manurung, Sekretaris DPW Nasdem Sumut Iskandar, Ketua Umum Prananda Foundation Gandi Febraska Manurung, dan beberapa tenaga ahli DPR-RI. Ikut serta dalam pertemuan itu Paban Ops Kolonel Laut Budi Darmawan A, Asops Kolonel Laou IG Merta Yasa S.Sos, SE, MM. Aslog Kolonel Laut Laswanto ST, MM dan Aspers Kolonel Laut Apri Suryanta, SE.
Sumber : SIB Tanggal 5/11/2015 Hal. 16