

PSP News — Untuk mempopulerkan sesuatu kadang tidak melulu dengan cara konvensional, tapi juga bisa lewat kontroversi. Dan nampaknya kadang cara ini cukup efektif. Orang-orang profesional dan akademisi biasa mengartikan sebagai “out of the box”, cara diluar yang biasa.
Mungkin inilah salah satu trik atau strategi yang dilakukan Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Bungtilu Laiskodat untuk mempopulerkan Labuan Bajo, salah satu destinasi wisata kelas premium di negeri ini.
Bung Victor menyebutkan wisatawan miskin dilarang ke Labuan Bajo. Lalu apanya yang salah?
Bukankah Labuan Bajo saat ini memang dirancang untuk menjadi destinasi wisata kelas premium?
Sejatinya memang tak ada yang salah. Karena sesungguhnya tidak ada “wisatawan miskin”. Bagaimana mungkin wisatawan bisa traveling kesana kemari jika miskin. Orang berwisata itu karena ada “uang lebih”. Artinya relatif mampu secara ekonomi. Bukankah pariwisata itu kebutuhan tersier?
Jadi ini hanyalah cara Bung Victor mengangkat pamor obyek wisata di daerahnya. Dampaknya orang kian penasaran dengan Labuan Bajo. Mata tertuju ke sana. Perdebatan,pro kontra tersaji. Setidaknya menjadi “buah bibir” di wacana publik. Nama Labuan Bajo pun melambung.
Selain itu, tidak sedikit publik yang akhirnya bisa menangkap pesan di balik pernyataan sang Gubernur Laiskodat itu. Ia ingin pariwisata Labuan Bajo mengalami transformasi menjadi destinasi dunia yang berkelas premium. Dengan kata lain, Labuhan Bajo “naik kelas”. Bergesar dari sekedar tujuan turis “sandal jepit”. (Adm***)
Gubernur NTT Sebut Wisatawan Miskin Tak Boleh ke Labuan Bajo, Ini Maksudnya