

Jakarta – Peringatan hari kemerdekaan Malaysia diwarnai gelombang gerakan massa yang sangat masif. Puluhan ribu rakyat Malaysia mengenakan kaus kuning tumpah ke ruang-ruang publik, menyampaikan protes terhadap pemerintahan Perdana Menteri Najib Razak (PM Najib). Berawal dari tema-tema normatif terkait perbaikan ekonomi dan demokratisasi politik, isu demonstrasi mengerucut pada tuntutan agar PM Najib mundur. Gelombang aksi yang dipicu dugaan penyelewengan dana hibah ini pun terus bergulir di atas panggung politik Malaysia, memunculkan beragam spekulasi.
Di Indonesia sendiri, berbagai spekulasi terlontar dari kalangan pengamat. Sebagai negara serumpun, tentu kita sangat berkepentingan terhadap Malaysia. Pada tataran hubungan bilateral misalnya, kondisi politik Malaysia bisa berpengaruh terhadap hubungan diplomatik dengan Indonesia dan antar negara-negara ASEAN secara umum.
Terkait isu itu, anggota Komisi I DPR Prananda Surya Paloh menanggapi dengan tenang. Ia menilai masalah politik domestik Malaysia tak akan berdampak signifikan terhadap politik internal Indonesia, sebab fundamen kedua negara jauh berbeda. Menurutnya, konstelasi politik Indonesia jauh lebih demokratis dan dinamis karena sudah melewati fase pemerintahan sentralistik melalui reformasi 1998.
“Ketakutan itu tak perlu kita bangun. Keadaan politik Indonesia berbeda dengan Malaysia, kita telah lama melewati Era Reformasi, di mana keterbukaan, akuntabilitas pemerintah, good governance dan kebebasan berekspresi telah kita peroleh. Oleh sebab itu, tidak beralasan Bila keadaan di Malaysia dapat dengan mudah mempengaruhi politik domestik Indonesia,” jelas politisi kedua termuda di parlemen tersebut.
Meski hubungan diplomasi Indonesia dan Malaysia selama ini mengalami pasang surut. Namun Prananda menilai hubungan bilateral yang sudah terbangun baik selama ini tak akan terganggu. Tentu saja, gejolak dalam negeri Malaysia sedikit banyak tetap berpengaruh terhadap hubungan bilateral dengan Indonesia, namun itu tak akan mengurangi hubungan baik yang sejauh ini terjaga. ”Demokratisasi yang terjadi di Malaysia sebagai isu domestik tidak akan banyak berdampak,” tuturnya.
Lebih jauh, Prananda berharap kekisruhan politik di Malaysia tak berkembang menjadi konflik bekepanjangan. Sebagai negara serumpun, Indonesia hanya bisa mencermati alur demokratisasi Malaysia yang tengah bergulir. “Proses demokratisasi kita bersama harapkan dapat berjalan dengan smooth, baik, dan tidak memecah konflik yang berlarut-larut dan diiringi kepentingan sesaat,” pungkas Prananda.
Sumber: